SEKILAS HAL KEWALIAN

SEKILAS HAL KEWALIAN

Makna wali ;
1. Orang yang di ambil alih kekuasaanya oleh Alloh, swt, sejenakpun si wali tak mengurusi dirinya. (seperti (QS; AL –A’raf : 196).
2. Yaitu orang yang secara aktif melaksanakan ibadah kepada Alloh secara terus-menerus dan tanpa di selingi kemaksiatan.
Salah satu syarat seorang wali adalah bahwa Alloh melindungi dari mengulangi dosa-dosa (mahfudz), sebagaimana seorang nabi yang terjaga dari dosa (ma’shum).
Waly ada yang di ketahui umum dan ada yang di sembunyikan Alloh derajat kewalianya.
Abu Yazid Al-Busthamy m,engatakan, “Waly-waly Alloh adalah pengantin-pengantin-Nya, dan tak seorangpun yang boleh melihat para pengantin selain mereka yang termasuk dalam keluarganya. Mereka di tabiri dalam ruang khusus di hadirat-Nya, oleh kesukacitaan jiwa. Tak seorangpun yang melihat mereka baik di dunia maupun di akhirat”.
Waly apabila di bandingkan dengan kedudukan nabi adalah seperti yang di katakana An-Nashr Abadzy; “ Pangkal perjalanan waly adalah langkah pertama para nabi”.
Penjelasan dari Abu Yazid : “ Jatah para waly itu sudah di tentukan dari 4 Asma Alloh. Masing –masing waly berbuat sesuai dengan salah satu Asma tersebut ; yaitru Al- Awwal, Al Akhir, Adz-Dahir, dan Al-Bathin.
Manakala seorang waly fana dari nama-nama tersebut setelah memakainya, maka dialah manusia kamil yang sempurna. Waly yang jatahnya dari Asma Alloh Adz-Dahir dia akan menyaksikan kekuasaan-Nya. Waly yang mendapatkan bagian AL- Bathin akan menyaksikan hal-hal yang mengalir dalam rahasia bathin dari cahaya-Nya. Waly yang bagoianya Al-Awwal maka akan di sibukan dengan masa lampau. Waly yang berasal dari Al-Akhir akan berhubungan dengan masa yang akan datang.

Dan masing-masing telah di beri sesuai kemampuanya , KECUALI waly yang telah di pilih oleh Alloh SWT. Dan di pelihara untuk diri-Nya. Kelompok waly ini lebih tinggi derajatnya . tak hanya sibuk dengan masa depan, ataupun masa lalu, juga bukan karena jalan-jalan ruhani yang telah di lewatinya.. karena keadaan ruhani mereka telah mencapai hakikat, mereka terhindar dari sifat-sifat mahluq. Seperti firman Alloh “ Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur” (QS. AL-Kahfi:18).
Tanda kewalian ada 3, yaitu:
1. Dia sibuk dengan Alloh Ta’ala.
2. Dia lari kepada Alloh.
3. Ia hanya bercita-cita kepada Alloh semata.
Menurut AL-Kharraz :
“ Jika Alloh Berkehendak mengangkat seseorang menjadi waly maka Dia akn membuka baginya:
• pintu gerbang DZIKIR. Jika ia telah merasakan manisnya Dzikir maka
• akan di bukakan pintu kedekatan, lalu
• akan di naikkan kesukacitaan Ruhani
• lalu di tempatkan dalam tahta tauhid.
• Lalu di bukakan tabir
• Dan di masukkan ke dalam ketunggalan yang di situlah musyahadah, di bukakan baginya keagungan ilahi. Itulah fana’. Setelah itu ia akan berada dalam perlindungan Alloh SWT. Bebas dari kecenderungan dirinya sendiri”.

Dan apabila ada hati seseorang menjadi terbiasa BERPALING dari Alloh SWT. Maka kejadian semacam itu akan di ketahui oleh para waly Alloh Swt.

Salah satu sifat seorang waly adalah:
• bahwa dia tak punya rasa takut, sebab takut adalah suatu keadaan yang yang di benci yang menempati di masa yang akan datang. DAN Tak menunggu kekasih yang hilang di masa lalu, sebab wali adalah anak waktunya. Tak ada gambaran di depan sehingga ia harus takut atau tak ada harapan. Karena harapan sendiri adalah menunggu YANG TERCINTA untuk m,enghampirinya.
• Sang waly juga tak pernah merasa sedih, sebab sedih adalah penderitaan dalam waktu. Karena telah mendapatkan cahaya ridho dan ketentraman.
Seperti QS:Yunus : 62
“Ingatlah , sesungguhnya wali-wali Alloh itu,taka da kekawatiran terhadap mereka, dan tak pula merasa bersedih hati”
Lalu ada hadits: yang di riwayatkan Aisyah r.a. : Rasullulloh bersabda:
“Alloh Swt berfirman: Barang siapa yang menyakiti seorang wali, berarti telah mamaklumkan perang terhadap-Ku, melawan dia. Seorang hamba bias mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah KU perintahkan kepadanya. Dia senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan SUNNAH sampai Aku mencintainya. Tak pernak AKU ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanku mencabut nyawa seorang hamba-Ku yang beriman. Karena dia tak menyukai kematian dan AkU tak suka menyakiti hatinya, tapi maut itu adalah sesuatu yang tak bias di hindari”. (H.r. Ahmad, Hakim dan Tirmidzi)

 

Wallohu’alam. [   ].

Terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: